Jakarta, Rekam-jejak.id – Kisah perjalanan hidup seorang petinggi kepolisian yang tak lupa akar, Komjen Pol Prof. Dr. Chrysnanda Dwilaksana, M.Si, menjadi sorotan dalam wawancara eksklusif bersama Sekjend Persatuan Wartawan Reaksi Cepat (PWTC) Hans Montolalu, Selasa (9/11/25) di Markas Besar Lemdikpol. Sebagai Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri (Kalemdikpol), ia membuka cerita panjang penuh tekad, keberanian, dan dedikasi yang membentuk dirinya menjadi figur polisi pemikir dan pembaharu.
Dari Keterbatasan Menuju Cita-Cita
Lahir dari keluarga sederhana, Chrysnanda mengakui tidak pernah membayangkan akan menjadi jenderal. “Yang saya tahu hanya satu: hidup harus bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya. Masa kecilnya dihabiskan dengan keterbatasan yang menempa mentalnya, dengan ajaran ayah dan ibu tentang kejujuran sebagai “kemewahan yang tidak boleh hilang” menjadi modal awal.
Motivasi Masuk Polisi: Berjuang untuk Keadilan
Keinginannya menjadi polisi muncul bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan kegelisahan terhadap ketidakadilan yang dilihat saat remaja. “Saya melihat banyak orang kecil diperlakukan tidak adil. Kalau bukan saya yang membela mereka, siapa lagi?” kata dia. Jalan menuju Akademi Kepolisian penuh tantangan—bersaing dengan ribuan calon, melewati seleksi ketat—namun ia melihatnya sebagai perjuangan untuk masa depan keluarga.
Mengabdi dengan Humanis dan Inovasi
Karirnya terus menanjak dengan memadukan kedisiplinan kepolisian dengan pemikiran akademis. Sebagai Kalemdikpol, ia menegaskan pendidikan sebagai pondasi reformasi Polri. “Saya ingin melahirkan polisi berkarakter—kuat secara fisik, bertanggung jawab, jujur, dan mampu melindungi rakyat dengan hati,” tegasnya. Ia juga dikenal dengan konsep “Police with Integrity” yang menjadi ciri khas pemikirannya.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup wawancara, Chrysnanda memberikan pesan penuh keteduhan: “Jangan takut bermimpi. Jangan takut memulai dari nol. Yang penting, lakukan semua dengan hati, jangan pernah mengkhianati integritas, dan berjuanglah untuk kebaikan. Itu yang akan membawamu jauh.”
Wawancara ini tidak hanya mengungkap perjalanan seorang petinggi, tetapi juga memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari karakter dan perjuangan panjang. Komjen Chrysnanda bukan sekadar jenderal—ia adalah contoh bagaimana integritas, pendidikan, dan komitmen terhadap kemanusiaan dapat membawa seseorang menuju puncak.

































































































